Investor sering diberi saran jika harga saham telah menembus support level sebaiknya saham tersebut segera dijual saja untuk memperkecil kerugian karena harga saham tersebut akan turun terus. Demikian pula sebaliknya, jika harga saham telah menembus resistance level, segera dibeli karena harganya akan terus naik
Hampir semua investor dan pelaku pasar modal sangat concern dengan support level dan resistance level ini. Hal ini dapat dilihat dari setiap pemberitaan di media masa maupun di radio mengenai pergerakan harga saham (atau IHSG) selalu menyinggung masalah support level dan resistance level.
Munculnya support level dan resistance level ini sebenarnya hanyalah masalah psikologis semata. Bayangkan saham Telkom selama beberapa hari ini diperdagangkan pada level Rp 10,000. Pada level ini banyak investor yang membeli saham tersebut. Ketika saham tersebut kemudian jatuh ke level Rp 9,000 misalnya, maka para investor yang telah membeli pada harga Rp 10,000 biasanya akan panic dan secara psikologis mereka akan segera menjualnya bila harganya dapat kembali ke level Rp 10,000. Tekanan jual ini akan membuat harga saham Telkom sulit untuk menembus Rp 10,000, sehingga dikatakan harganya merupakan resistance level.
Sebaliknya juga demikian, jika selama ini saham Telkom diperdagangkan pada level Rp 9,000 dan kemudian naik ke level Rp 10,000, maka pada saat itu para investor yang membeli pada harga Rp 9,000 akan menjualnya dan meraup keuntungan. Jika harga saham Telkom kembali turun ke level Rp 9,000, maka para investor yang sudah pernah meraih keuntungan dari kejadian sebelumnya merasa akan dapat mengulangi kembali kejadian tersebut. Akibatnya begitu harga saham Telkom mendekati level Rp 9,000, gelombang beli akan segera melanda saham Telkom dan sebelum menyentuh level Rp 9,000, harganya sudah naik kembali. Akhirnya harga Rp 9,000 menjadi support level.
Dari ilustrasi di atas dapat dilihat bahwa sebenarnya support level dan resistance level lebih banyak menyangkut masalah psikologis. Lalu apakah support level dan resistance level dapat digunakan memprediksi arah pergerakan harga saham untuk meraih keuntungan ? Dengan kata lain, jika menembus support level maka harga saham akan turun terus hingga ke support level berikutnya dan jika menembus resistance level harga akan naik ke resistance level berikutnya ? Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, jawabannya bisa ya dan bisa pula tidak, walaupun kecenderungannya adalah tidak.
Ya, karena jika support dan resistance level tidak bermanfaat dan tidak dapat memberikan suatu signal ke mana arah harga saham, maka seharusnya tidak akan ada pelaku pasar modal yang membahas atau mengulas mengenai support dan resistance ini.
Tidak, karena pada kenyataannya tidak ada satu kata kesepakatan dari para pelaku pasar modal mengenai pada level berapa sebenarnya support dan resistance ini berada. Kalau beberapa analis ditanya mereka akan memberikan angka yang berbeda-beda.
Contoh lain yang paling mudah adalah dengan memperhatikan pergerakan IHSG dan kemudian dengarlah komentar para analis disiaran radio atau membaca hasil ulasan di media masa, maka akan didapatkan angka yang berbeda untuk support dan resistance level ini.
Jika demikian halnya, apakah ada manfaat yang diperoleh dengan mengetahui support dan resistance level ? Jika ada, komentar analis manakah yang dipakai sebagai acuan ? Bila setiap investor menggunakan satu orang analis sebagai acuannya, dan setiap analis mempunyai pandangannya sendiri-sendiri untuk support dan resistance-nya, apakah masih efektif informasi analis tersebut bagi si investor ?
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengabaikan perlunya mengetahui support dan resistance, melainkan untuk memberikan suatu pandangan yang seobjektif mungkin bagi para investor dalam melihat support dan resistance level ini.
Diharapkan dengan mengetahui latar belakang terbentukanya support dan resistance para investor dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan investasi apakah itu beli atau jual.
Pada akhirnya yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa teori mengenai terbentuknya support dan resistance ini pada prakteknya tidaklah semudah itu karena pada kenyataannya faktor volume saham yang diperdagangkan pada saat itu juga berperan penting. (end)
