Ada sebuah strategi investasi jangka panjang yg cukup baik dilakukan oleh para investor yaitu constant-dollar plan.
Dalam strategi ini investor menginvestasikan sejumlah dana tertentu di sebuah portofolio saham. Kemudian investor tsb mempertahankan nilai portofolio tsb pada level tertentu. Bila harga saham naik dan portofolionya melebihi level yg telah ditetapkan, maka saham yg mengalami kenaikan akan dijual hingga nilai portofolionya mencapai level yg telah ditetapkan tsb. Dana hasil pernjualan tsb akan diinvestasikan di fixed-income securities, apakah itu obligasi, deposito, atau valuta asing.
Jika harga saham turun, sehingga nilai portofolionya juga turun, investor akan membeli saham yg harganya turun tsb sampai nilai portofolionya kembali pada nilai yg telah ditetapkan. Dana yg digunakan utk membeli saham ini bukan dari hasil penjualan fixed-income securities, tapi dari sumber atau dana baru.
Contoh, seorang investor memiliki dana Rp 200jt. Kemudian investor tsb membagi dana tsb menjadi 100jt diinvestasikan di portofolio saham dan Rp 100jt diinvestasikan di fixed-income securities. Pada waktu portofolio dibuat, misalnya, ditentukan bila portofolio saham naik atau turun sebesar 20% dari nilai asalnya, maka akan dilakukan penyesuain sehingga nilai portofolio saham tetap sebesar Rp 100jt.
Perlu diingat bahwa yg perlu dilakukan penyesuaian hanya portofolio saham, sementara portofolio fixed-income securities, karena sifatnya yg berpendapatan tetap dan nilainya tidak akan turun, tidak diperlukan penyesuain apapun. Jadi bila nilai portofolio saham naik menjadi Rp 120jt, investor tsb akan menjual sebagian sahamnya sehingga nilai total portofolionya kembali menjadi Rp 100jt. Dana dari hasil penjualan ini kemudian diinvestasikan di portofolio fixed-income securities.
Ketika harga saham turun dan nilai portofolio menjadi 80jt, investor tsb akan membeli saham secukupnya sehingga nilai portofolionya kembali menjadi Rp 100jt. Dana yg digunakan utk membeli saham baru ini bukan dari portofolio fixed-income securities, tapi dari sumber lain (dana baru). Karena itu bila seorang investor ingin menggunakan strategi ini, harus menyiapkan dana cadangan yg cukup bila sewaktu-waktu nilai portofolionya turun.
Keberhasilan dari strategi ini didasarkan pada suatu observasi bahwa dalam jangka panjang, harga saham akan naik. Ketika harga saham naik, strategi constant-dollar plan, memaksa investor utk mengambil keuntungan dari investasi spekulatif (saham) dan memindahkan ke investasi yg kurang spekulatif (deposito, obligasi, dll). Karena itu jenis dan jumlah saham yg ada diportofolio saham selalu berubah-rubah tergantung strategi yg dilakukan saat itu.
Bila nilai portofolio naik dan sebagian saham dijual maka jumlah saham berkurang, sebaliknya bila nilai portofolio turun dan investor membeli lebih banyak saham (utk mencapai level yg telah ditetapkan) maka jumlah saham bertambah.
Dalam strategi constant-dollar plan, faktor harga (price risk) dan waktu (timing risk) cukup signifikan utk diperhatikan. Misalnya ketika harga saham naik, apakah sebaiknya langsung dijual atau menunggu kenaikan yg lebih besar lagi. Demikian pula ketika harga saham turun, apakah sebaiknya melakukan pembelian lagi atau menunggu penurunan yg lebih besar lagi. Kedua hal ini menyangkut masalah harga dan waktu.
Dilema tsb dapat diatasi dengan dua cara. Pertama, dengan cara menetapkan batas persentase kenaikan dan penurunan nilai portofolionya, misalnya, sebesar 20% spt contoh di atas. Cara kedua adalah dengan menentukan suatu interval waktu utk mengkaji kembali nilai portofolionya, apakah bulanan, triwulanan, semesteran, atau tahunan. Setiap awal atau akhir periode perikasa nilai portofolio sahamnya, dan lakukan tindakan beli atau jual sesuai dgn rencana investasi yg telah dibuat, yaitu melakukan tindakan jual bila nilai protofolio sahamnya lebih besar dari Rp 100jt, dan melakukan pembelian bila nilai protofolionya di bawah Rp 100jt.
Dalam menggunakan strategi ini perlu diperhatikan beberapa hal. Pertama, gunakan hanya salah satu parameter, apakah itu berdasarkan persentase atau waktu. Kedua, pilih saham-saham yg berkualitas baik dan berfundamental bagus (blue chips) serta dalam jangka panjang mempunyai kecenderungan naik. Ketiga, disiplin dan konsisten dalam mentaati strategi yg telah ditetapkan sebelumnya. Jangan melakukan tindakan jual atau beli sebelum batas harga atau batas waktu tercapai walaupun harga saham saat itu bergerak naik turun dengan cepat. Selamat berinvestasi. (end)
